Thursday, April 17, 2014

Soekarno dan Jokowi Sama-sama Bershio Kerbau Logam

Jakarta - Pilpres 2014 semakin dekat, banyak pihak mulai meraba karakter para capres. Ada yang mengukur kapasitas capres secara verbal, ada pula yang menerawang karakter capres dengan cara unik. Membaca Shio atau zodiak Tionghoa adalah salah satu cara yang sudah umum dipakai untuk menerawang karakter seseorang.

Dari pembacaan Shio, ternyada ada hal menarik yakni kesamaan Shio antara Presiden RI pertama Soekarno dan capres PDIP Joko Widodo. Keduanya ternyata memiliki Shio yang sama. 

Soekarno lahir di Surabaya, Jawa Timur, pada 6 Juni 1901. Shio ayah Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri adalah Kerbau Logam. Sama dengan Joko Widodo yang lahir pada 21 Juni 1961.

Shio Kerbau Logam seringkali punya kemauan yang bertentangan dengan orang banyak. Ia mengekspresikan perasaannya dengan jelas, tegas, penuh keyakinan, dan tidak pernah ragu pada sesuatu hal yang diinginkannya. Ia berpegang teguh pada pendapatnya, apa pun risikonya.

Soekarno menjalankan pemerintahan di awal kemerdekaan Republik Indonesia bersama M Hatta. M Hatta yang lahir pada 12 Agustus 1902 memiliki Shio macan air. Pasangan ini dinilai sebagai duet yang sukses bahkan disebut sebagai dwi tunggal yang tak bisa dipisahkan. Kombinasi kepemimpinan Soekarno-Hatta adalah kombinasi Shio Kerbau Logam-Macan Air.

Shio Macan Air sendiri melambangkan sosok yang berjiwa terbuka, kaya ide, dan selalu mencari-cari pengalaman baru. Ia pribadi yang objektif, tenang, humanis, dan mampu menyelami perasaan orang lain. Ia intuitif, dan mampu berkomunikasi. Kemampuan berpikirnya jauh lebih unggul dibandingkan Shio Macan unsur lainnya.

Lalu apakah Jokowi yang juga Shio Kerbau Logam bakal memilih cawapres yang memiliki Shio sama seperti Hatta yakni macan air? Belum tentu, karena sampai saat ini Jokowi belum memutuskan siapa cawapresnya. Berikut nama yang selama ini disebut-sebut sebagai kandidat cawapres Jokowi lengkap dengan Shionya:

Hatta Rajasa, lahir 18 Desember 1953, Shio Ular Air
Muhaimin Iskandar, lahir 24 September 1966, Shio Kuda Kayu
Jusuf Kalla, lahir 18 Desember 1953, Shio Kuda Air
Pramono Edhie Wibowo, lahir 5 Mei 1955, Shio Kambing Kayu
Gita Wirjawan, lahir 18 Desember 1953, Shio Ular Kayu
Chairul Tanjung, lahir 18 Juni 1962, Shio Macan Air
Mahfud MD, lahir 13 Mei 1957, Shio Ayam Api

Saturday, March 15, 2014

Basuki: Jokowi Tidak Serakah

TRIBUNNEWS/HERUDIN


Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo bersama Wakil Gubernur, Basuki Tjahaja Purnama (kiri) saat memimpin rapat dengan kepala satuan kerja perangkat daerah, di Balaikota, Jakarta Pusat, Senin (15/10/2012). Jokowi-Basuki melakukan rapat pertama usai dilantik untuk mengetahui program kerja dan kerja apa yang sudah dilakukan para kepala SKPD DKI Jakarta.
JAKARTA, KOMPAS.com — Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama tak sependapat dengan beragam cemooh yang menyebut Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo sebagai orang serakah dan tidak amanah. Cemooh itu muncul menyusul pernyataan Jokowi, Jumat (14/3/2014), bahwa dia telah mendapat mandat dari Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri untuk menjadi calon presiden partai itu dan dia menyatakan siap.

Cemooh tersebut merujuk pula catatan bahwa masih ada 3,5 tahun masa jabatan Jokowi sebagai Gubernur DKI. Terlebih lagi, saat maju menjadi Gubernur Ibu Kota, Jokowi pun meninggalkan kursi Wali Kota Surakarta yang masih separuh jalan meski di periode kedua jabatan.

"Yang penting rakyat mengerti, kami pergi bukan karena serakah, tapi karena mengemban tugas," kata Basuki di Balaikota Jakarta, Jumat. Dia pun bercerita masa-masa menjelang Pemilu Gubernur DKI Jakarta. Menurut dia, Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto sangat berambisi menjadikan Jokowi sebagai calon gubernur DKI dan bahkan sudah menyiapkan alternatif skenario bila PDI-P, yang adalah partai Jokowi, menolak pencalonan itu.

Namun, kata Basuki, saat itu Jokowi menolak rencana tersebut. Menurut Basuki, Jokowi mengatakan tak akan maju menjadi calon gubernur DKI Jakarta tanpa restu dari PDI-P. "Pak Jokowi selalu percaya, rumah besar nasionalis kaum marhaen yang bisa mewujudkan keadilan sosial itu PDI Perjuangan. Itu yang ada di otaknya Pak Jokowi," ujar dia.

"Jadi, apa pun perintah partai, perintah itu akan mewujudkan keadilan sosial. Jadi, apa pun yang diperintahkan, dia akan siap, termasuk diperintah menjadi calon presiden. Karena (pencalonan) itu untuk kebaikan," imbuh Basuki. Dia pun berpendapat banyak persoalan di Jakarta tak akan selesai bila Jokowi tetap hanya menjadi gubernur DKI.

Basuki lalu membandingkan situasi tersebut dengan yang dia alami. Seperti halnya Jokowi, dia juga sering tak menuntaskan masa jabatan. Misalnya, dia hanya menjadi anggota DPRD Kabupaten Belitung Timur selama tujuh bulan untuk kemudian menjadi Bupati Belitung Timur selama 16 bulan, sebelum menjadi calon gubernur Bangka Belitung, lalu melaju ke Pilkada DKI Jakarta. 

Namun, kata Basuki, warga Belitung Timur tidak pernah keberatan dengan langkah yang dia tempuh itu. Bahkan, ujar dia, warga Belitung Timur mendukung upayanya untuk maju sebagai calon gubernur Bangka Belitung. 

"Ketika saya berhenti jadi bupati untuk jadi calon gubernur (Bangka Belitung), kenapa rakyat mengerti dan mendukung saya? Karena saya harus membuat yang lebih baik untuk Provinsi Bangka Belitung, dan itu tidak bisa saya lakukan jika hanya jadi bupati," kata Basuki.

"Kalau saya terus jadi bupati, saya hanya menipu masyarakat karena saya hanya memperpanjang karier politik saya. (Bisa saja) saya lebih baik terus jadi bupati sampai 10 tahun, lalu dari umur 50-60 jadi gubernur, umur 62 ikut pemilu untuk jadi DPR (yang) kalau terpilih nanti sampai umur 67. Terus kalau sudah malas jalan jadi DPD mungkin sampai umur 72. (Kalau pakai pikiran itu) lebih baik saya mengatur seperti itu saja supaya saya selalu dipelihara negara seumur hidup saya," papar Basuki.

Wednesday, March 12, 2014

Satgas Antirokok Sidak di Kantor Jokowi

JAKARTA, KOMPAS.com — Satuan Petugas Pengawas Kawasan Dilarang Merokok melakukan inspeksi mendadak sejumlah titik di kawasan Balaikota Jakarta, Senin (11/3/2014) siang. Tujuan kegiatan tersebut adalah melakukan sosialisasi Peraturan Gubernur dan Peraturan Daerah tentang kawasan dilarang merokok. 

Asisten Sekretaris Daerah Bidang Kesehatan Masyarakat Bambang Sugiyono mengatakan, sosialisasi di Balaikota merupakan tahap awal sebelum nantinya kegiatan serupa akan dilakukan di area publik. 

"Gedung ini mau kita jadikan percontohan. Sementara ini, masih terus sosialisasi. Kalau tidak mempan, akan mulai kita terapkan denda," kata Bambang di Balai Wartawan Balaikota Jakarta. 

Setelah mendatangi Balai Wartawan, satgas tersebut lalu menyisir ruang-ruang perkantoran sampai lantai 22. Penyisiran dilakukan sekitar dua jam, dimulai dari pukul 12.30 hingga sekitar pukul 14.30 WIB. 

Ke depannya, kata Bambang, sosialisasi akan terus dilakukan secara rutin. Tak hanya kepada jajaran birokrat, tetapi juga kepada para anggota legislatif. "Tidak hanya kepada PNS dan wartawan, tetapi ke anggota DPRD-nya juga. Kita akan lakukan secara rutin, tapi waktunya tidak akan tetap," ujarnya. 

Perda dan pergub kawasan anti-rokok sendiri melarang aktivitas merokok di delapan lokasi, yakni di area perkantoran, pusat perbelanjaan, pusat pendidikan, pelayanan kesehatan, rumah ibadah, area bermain, angkutan umum, dan kawasan dengan aturan larangan merokok.

My Blog List